Cerita Sex Bermain Hati, Bagian Tiga – Part 11

Cerita Sex Bermain Hati, Bagian Tiga – Part 11by adminon.Cerita Sex Bermain Hati, Bagian Tiga – Part 11  Enam – Part 11 BAB III Bermain Hati, Bagian Tiga Ima termenung. Ucapan temannya tadi benar-benar membuat terhenyak. Mas Gio dan Revi? Gak mungkin. Pagi tadi dia salah seorang temannya mengatakan bahwa dia melihat Gio dan Revi lagi berduaan, berjalan saling berpegangan tangan. Ima tidak mau percaya, hanya saja perasaannya sebagai seorang wanita berkata […]

tumblr_nvrkinLqJf1uhenvdo4_500tumblr_nvrkinLqJf1uhenvdo2_250 tumblr_nvrkinLqJf1uhenvdo3_250 Enam – Part 11

BAB III
Bermain Hati, Bagian Tiga

Ima termenung. Ucapan temannya tadi benar-benar membuat terhenyak. Mas Gio dan Revi? Gak mungkin. Pagi tadi dia salah seorang temannya mengatakan bahwa dia melihat Gio dan Revi lagi berduaan, berjalan saling berpegangan tangan.
Ima tidak mau percaya, hanya saja perasaannya sebagai seorang wanita berkata lain. Beberapa waktu belakangan ini, Gio memang tampak berbeda. Tapi dia menganggap itu sebagai hal biasa.

Tapi pegangan tangan?
Dan Ima memutuskan untuk bertanya ke sahabatnya yang sering jalan-jalan berdua dengan Revi. Rian.

=============================
Rian bengong. Tidak percaya. Tapi sikap Revi akhir-akhir ini memang beda. Lebih sering sendiri dan menjauh.
Revi. Memang gak ada perasaan sedikitpun buat saya.

=============================
Sialan, pada ada apaan sih barudak? Udin menggerutu, hari ini ingin sekali dia karaoke menghilangkan stress, tapi semua sahabatnya gak bisa diajak. Berdua saja dengan Icha gak asik. Tapi apa boleh buat, akhirnya dia pergi berdua dengan Icha.
Mereka memutuskan untuk jalan-jalan di mall yang ada di jalan Cihampelas. Lagi asik berjalan berdua, Udin meilihat sosok yang dia tau. Perempuan cantik berambut sebahu, Lidya. Hei, sendiri aja Lid?

Eh, kamu Din, gak lah, ama Gusti. Nah, ini makhluk cantik disebelah siapa? Lidya menunjuk ke Icha. Sore itu, Icha menggunakan kemeja berwarna pink dengan jeans biru dan sepatu kets kesayangan. Terlihat cantik dan menggemaskan. Lidya sendiri menggunakan rok mini, menunjukan pahanya yang kuning langsat dan panjang.

Kenalin, pacar Udin. Icha. Udin memperkenalkan.
Icha.
Lidya. Eh, mau pada nonton?
Gak. Icha menjawab. Tadinya mau karaokean, tapi cuman bedua mah kurang asik.
Ya hayu lah, karaokean ama gadis cantik kayak kamu ditemani dua lelaki, yang satu kekar dan yang satu, kamu kaya gimana ya Din? Lidya menimpali.
Ganteng surenteng jauh lebih ganteng dari pada Justien Bebek. Sambil nyengir mempertontonkan giginya yang putih terawat Udin menjawab.
Idiiihhhh. Dan Lidya tertawa. Icha sendiri terbahak-bahak.

Halah, ngapain ada makhluk ini di sini? Gusti keluar dari lorong di belakang mereka. WC.
Lah, ente sendiri ngapain Betawi? Ganggu aja.
Udah, kaya anak kecil aja. Kita karaokean Gus. Lidya menegaskan.
Gak jadi nonton?
Gak ah, males, palingan di dalem juga kamu cuman ngeremesin ini dada ama maenin meki. Dengan enteng Lidya menjawab.
Gusti terdiam, raut kecewa terlihat jelas di wajahnya, Icha sendiri tersipu dan tertunduk. Sedangkan Udin nyengir sambil merasakan adeknya yang di bawah bangkit.
Kita karaokean aja.

Dan mereka memutuskan karokean. Ruangan yang mereka ambil yang small. Ruangannya terletak di bawah, namun karena lobinya di atas, seolah-olah mereka turun ke basement. Dapat ruangan paling pojok di belakang. Satu jam sudah mereka bernyanyi. Sepanjang satu jam itu, Udin sering mencuri pandang ke paha Lidya. Dan ini disadari oleh Icha, Icha yang merasa cemburu, mulai merapatkan posisi duduknya di sebelah Udin, memeluk Udin dan mulai menggoda Udin. Gusti tidak sadar akan hal ini, karena sejak beberapa menit yang lalu dia tertidur. Memak anak yang satu ini tidak begitu suka bernyanyi dan tidak keberatan dengan suara bising sebagai teman tidur. Padahal, suara Udin benar-benar bising.

Melihat perlakuan Icha, akhirnya Lidya berkomentar. Makin nembpel aja Cha, cium aja sekalian. Icha termakan oleh tantangan Lidya, dan dia langsung mencium bibir Udin. Udin yang beneran tidak menyakngka Icha bakal seberani ini gelagapan, namun lama kelamaan mulai menikmati. Tangan Udin bahkan sudah meremasi dada Icha, dari luar kemejanya dan perlahan membuka kancing bagian atas.

Lidya sendiri melongo tidak menyangka hal ini, namun dia mulai panas. Diciumnya Gusti yang sedang tidur sampai dia terbangun. Panik, Gusti merasa malu, namun akhirnya jengah juga, terutama ketika melihat pemandangan di kanannya, Udin memangku Icha. Icha sendiri duduk di pangkuan Udin, membelakanginya. Tangan kanan dan kiri Udin mempermainkan buah dada Icha yang BH nya sudah disingkirkan ke atas. Bibir mereka saling melumat, dan lidah mereka melilit.
Gusti gelagapan saat Lidya kembali menyerangnya, dan berteriak, Stop. Hey, kalian gila apa? Gimana kalo ada kamera. Sarap lu pada.
Yeee, Lidya yang nantangin. Saut Icha. Icha sih gak takut.

Lu nantang apa sih Lid?
Nantang berani ga Icha nyium Udin di depan saya, gila ni anak. Udah gituan belum kalian?
Gituan apa Lid? Ujin berusaha mengelak.
ML lah. Pernah?
Peting doang, belum ampe ML. Icha gak mau. Udin menjawab.
Nah Cha, bernai gak kalian peting di depan saya. Ama depan Gusti juga. Berani ga? Tantang Lidya kembali.
Icha diam, gak langsung menjawab, namun melihat kondisi dia sekarang dimana sepasang buah dadanya yang ranum sudah terpampang jelas dia menjawab, Boleh, tapi gak disini. Terus, kamu mau ngasih apa kalo berani?
Gak ngasih apa-apa. Cuman nantangin kamu aja.

Oke, mau di mana?
Di kostan saya aja, sekarang, mumpung belun telalu malem.
Heh, kalian itu kayak apa aja, belum tentu si Udin itu mau. Dan ngapain juga gue liatin burung item si Udin, gedean gua malah. Ogah ah gua.
Jrit, maneh belum liat nu saya. Lebih gede dari punya lo Betawi. Dan enak aja item, paling juga lebih item punya lo. Udin sewot menimpali.
Ah kagak mungkin, okeh, gue ikut. Gua bakal saksiin, mana yang lebih gede, punya lo ato punye gue. Ayo cabut say, kamu ikutin motor gue. Tantang Gusti ke Udin.
Nah, gimana cara mastiinnya? Lo juga harus maen ama Lidya. Baru kita bisa tau. Tul ga Cha? Tantang Udin pada Gusti.
Gusti melihat Lidya, dan Lidya hanya mengangguk, Okeh, yang kalah traktir nonton. Yang Premiere. Plus makannya. Gimana?
Aing tidak pernah takut. Apalagi ama lo Betawi edan. Kita liat siapa yang paling gede.
Kini giliran Lidya dan Icha yang saling pandang melihat dua sahabat itu beradu mulut, kemudian keduanya tersenyum. Manis.

=============================
Revi melihat jam tangannya, jam 19:30. Memandang ke luar rumah, masih sepi. Gio janji dateng ke rumahnya malam ini. Perasaannya kini tak menentu, benih-benih sayang mulai tumbuh di diri Revi, seiring waktu yang mereka habiskan bersama.
Revi masih merasa bersalah, namun apa yang dia rasa bukanlah sepintas, dia memang mulai menyayangi Gio. Suara motor terdengar memasuki pelataran rumahnya, dengan cepat dia turun dan menuju pintu, membukakannya. Gio tersenyum.

Masuk Mas, lama amet, katanya jam tujuh.
Kenapa? Kangen yaaaaa??
Idih, sapa juga yang kangen? Revi memasang wajah cemberutnya, namun yang ada hanya menambah kecantikannya.
Lalu mereka bercengkrama di ruang tamu. Si mamah dimana Vi?
Di dalem, lagi nonton OVJ. Kenapa?
Gak, cuman pengen ini aja. Gio langsung mencium Revi, dan dibalas dengan lumata khas Revi, benar-benar melumat bibir Gio, kadang menggigitnya sampai Gio kesakitan. Tangan Gio sendiri sudah memainkan selangkangan Revi.
Coba liat dulu gih, lagi ngapain si mamah. Perintah Gio. Revi langsung bangkit, membenahi jilbabnya lalu masuk ke dalam. Tak lama, dia keluar lagi sambil tersenyum.

Tidur.
Giliran Gio yang tersenyum, dan ketika Revi hendak duduk, Gio memeluk Revi dan memposisikannya di depan dia. Memeluk Revi dari belakang. Dengan begitu, dia bebas memainkan kedua gunung kembar Revi yang kenyal. Diangkatnya kaos yang dikenakan Revi, disingkirkannya BH Revi ke atas, dan dimulailah remasan-remasan pada dada Revi. Lalu tangan kanannya turun ke bawah, masik ke balik piyama yang dikenakan Revi, masuk lebih dalam, dan mulailah Gio memainkan vagina Revi, dikobelnya, di geseknya sampai Revi mengeluarkan desahan dan rintihan yang lumayan keras. Gio langsung menyumbal bibir Revi dengan bibirnya.
Aaahhhhh, hhhmmpppfff. MMmmmmmmm.
Berisik sayang, entar ketauan.
Hah hah, abis enaaaakkkkkkkkk, aaahhhhh. Ya mas, terus. Ah, mau keluaaarrr.

Namun Gio berhenti. Ah, kenapa berhenti, mau keluar tadi. Protes Revi dengan nafas memburu.
Hehe, pengen ngemut punya kamu Vi, yang ini. Gio menekan jarinya di vagina Revi.
Ah, hmmm, ke kamar aja kalo gitu.
Gak apa-apa?
Gak, pelan-pelan aja naekya.
Kedua insan yang dilanda nafsu itu kemudian bergandengan perlahan naik ke atas. Revi memastikan kakaknya tidak ada. Kemudian keduanya masuk ke kamar Revi. Setelah mengunci kamar, Revi langsung dipeluk Gio. Mereka kembali berciuman, tangan Gio perlahan mulai mengangkat jilbab Revi, perlahan dibukanya jilbab putih yang Revi pakai, dan terlihatlah rambut panjang Revi. Hitam. Diciumnya perlahan, dihirup wanginya rambut Revi, dan tangannya tetap bergerak, melepas kaos Revi, kemudian BH Revi.

Hmm, mau nelanjangin ni Mas?
He eh.
Dan Gio benar-benar menelanjangi Revi. Kini tak ada sehelai benangpun di tubuh gadis cantik ini. Buah dadanya yang bulat indah menggantung sempurna. Puting kecilnya yang berwarna merah muda menantang mulut Gio untuk segera melahapnya. Rambut kemaluan Revi yang tidak begitu lebat terpampang, dan Gio sudah tidak tahan. Dia kemudian melucuti pakaiannya sendiri.

Kita 69 yu? Ajak Gio. Revi tersenyum Kenapa, mau nyumpal mulut Revi pake punya Mas ya?
Iya, habis kamu berisik Vi.
Merekapun mengambil posisi, saling menyamping, Revi mulai melumat penis Gio, sambil mengocoknya dengan tangan juga.
Aaahh, Masss, aaahhhhhh, sssssssssss, owwhhh, mmhhhhpppff. Desahan dan rintihan Revi tertahan oleh penis yang terbenam di mulutnya, Gio sendiri mulai menjitati vagina Revi, sambil jari-jarinya berusaha melebarkan vagina Revi agar lidahnya lebih leluasa memainkan klitoris Revi.
Hah hah, hheeeuuugg, wennnkk. Trus aooohhh. Setelah dipermainkan selama 30 menitan, akhirnya Revi klimaks, cairan vaginanya deras dan tetap disedot oleh Gio, Gio sendiri sudah hampir sampai. Dia mendorong tubuh Revi hingga Revi tertlentang. Dan Gio mulai mengentot mulut Revi, sampai, Aaaaaaaaaaahhhhhhhhhhhh. Muncratan sperma Gio sangat banyak, terlihat dari beberapa masih bisa mengalir di sela-sela mulut Revi.
Tiba-tiba HP Revi berbunyi, ada telephon masuk. Ima Mas.

Angkat aja Vi.
Halo, ya Ma, kenapa?
Kamu kenapa Vi? Ngos-ngosan gitu?
Gak kenapa-kenapa. Ada apa?
Gak, pengen ngobrol aja. Gak ada temen ngobrol.
Loh, Mas Gio kemana? Revi bertanya pertanyaan yang jawabannya sudah jelas.
Ada arisan keluarga katanya, jadi dari kemaren di luar kota.
Oh, bentar atuh ya, saya mau ke aer dulu, mau cuci muka dulu, tar di sambung lagi.
Iya.
Dan Revi terdiam, memandang ke arah Gio, rasa bersalah kembali merasuk.
Kenapa Vi?
Enggak. Revi harus nelepon Ima. Mas gak apa-apa kalo pulang sekarang?
Hmmmm, boleh minta satu kali lagi gak? Singkat ko.
Hmmm, cepet tapi ya?

Tidak menjawab, Gio langsung menidurkan Revi, tangan kanannya memegang penisnya, kepala penisnya dia arahkan ke mulut vagina Revi, dan dia mulai menggesekkan kepalanya naik turun di bibir Vagina Revi yang mulai mengering.
Hmmmm, aaaaaahhhhh, ooohhhh, geli, enak masssssss.

Gio semakin cepat memainkan kepala penisnya, lama kelamaan agak masuk, namun dia masih berfikiran sehat untuk tidak memasukan seluruh penisnya ke dalam vagina Revi, hanya butuh 3 menit sampai akhirnya Gio memuntahkan spermanya di perut Revi.

=============================
Sepanjang perjalanan pulang Gio berfikir, kenapa sekarang, kenapa Revi, apa kurangnya Ima. Lebih cantik Ima ko. Lebih baik Ima ko. Apa dia akan menyia-nyiakan gadis cantik yang telah meluluhkan hatinya dengan sifat, sikap dan penampilan yang cantik seorang Ima?

Kesal dengan perasaannya sendiri, Gio mulai mempercepat laju kendaraannya.

=============================
Tika, hmmm, bisa nemenin saya besok?
Kemana Yan?
Nemenin liat layar gede yang ada gambarnya.
Ahahahaha, ngajak nonton nih?
Iya. Mau gak?
Dengan kamu sih, ayo.
Ya udah, saya jemput besok jam 11 ya?
Oke
——bersambung——

Author: 

Related Posts