Cerita Sex Sisi Gelap Dalam Dirinya.] – Part 21

Cerita Sex Sisi Gelap Dalam Dirinya.] – Part 21by adminon.Cerita Sex Sisi Gelap Dalam Dirinya.] – Part 21Dark Secret [Setiap Orang Mempunyai Sisi Gelap Dalam Dirinya.] – Part 21 Chapter 14: INVESTIGATION ——————————– Ping! Kuambil handphoneku dan kulihat ada ping dan BBM baru. Dari Rose, gadis yang baru aku kenal beberapa hari lalu. Mas, sibuk sekarang? Rose di Jakarta nih, bingung nyari hotel buat menginap. Wah, kesempatan! Kubalas pesannya. Mas kerja sampai […]

tumblr_nnqjr4Ou371tp7wv0o8_500 tumblr_nnqjr4Ou371tp7wv0o9_500 tumblr_nnqjr4Ou371tp7wv0o10_500Dark Secret [Setiap Orang Mempunyai Sisi Gelap Dalam Dirinya.] – Part 21

Chapter 14: INVESTIGATION
——————————–

Ping!

Kuambil handphoneku dan kulihat ada ping dan BBM baru.
Dari Rose, gadis yang baru aku kenal beberapa hari lalu.
Mas, sibuk sekarang? Rose di Jakarta nih, bingung nyari hotel buat menginap.
Wah, kesempatan!
Kubalas pesannya.
Mas kerja sampai pukul 5 sore, kalau Rose mau nunggu sebentar lagi
Beberapa saat kemudian, ada balasan dari Rose.
Dengan gambar.
Iya mas, tapi gerah nih
Gleeekkkkk. Sebuah gambar aku terima.
Gambar wanita dengan kemeja, dua kancing bagian atasnya terlepas!

——————————–
Galang POV

Herman memandangku dengan ekspresi bingung.

Jadi menurutmu ini bukan kasus kecelakaan penggunaan obat kuat saja Lang?

Dan menurutmu, wanita yang bersamanya itu yang membunuhnya? lanjut Herman.

Kalau benar yang diajaknya seorang wanita.

Tapi bukanlah menurut catatan anak buahku, korban check in dengan seorang wanita, bantah Herman.

Menurut catatan anak buahmu, Ade check in dengan seseorang yang pakaiannya tertutup, menggunakan topi dan kacamata, tidak jelas itu seorang wanita, jawab ku.

Jadi bagaimana sekarang? tanya Herman dengan ekspresi bingung diwajahnya.

Hmmm, cuma ini petunjuk yang bisa kutemukan disini, Jawabku sambil memasukkan bungkus obat itu kedalam plastik yang biasa digunakan untuk membungkus barang bukti.

Jadi, apa yang ingin kau lakukan sekarang?

Aku ingin berbicara dengan teman-temannya disini, kalau dia punya teman, sahutku sambil beranjak keluar dari kamar yang sedikit sumpek ini.

Kalau begitu kita kembali ketempat yang tadi? Tanya Herman sambil mengunci pintu mess.

Iya.

Kami berjalan menuju ruangan pertama yang kami datangi hari ini. Matahari sudah beranjak naik. Matahari yang tidak sempat dilihat Ade hari ini.
Diruangan tadi, tidak terlihat Pak Frans serta Pak Edy yang tadi ada disini, hanya ada tiga orang wanita yang tadi pagi ada disini.

Maaf mbak, Pak Frans danPak Edy kemana ya? tanya Herman.

Pak Frans sedang ganti baju ke mess nya pak? kata wanita yang mengenakan blazer hitam.Sedangkan Pak Edy ada meeting diluar sekarang pak lanjutnya.

Ada yang bisa kami bantu pak? tanya wanita yang menggunakan blouse putih dan rok hitam.

Kuamati sejenak, terlihat kesan bingung, namun disisi lain terlihat kepercayaan dirinya dan keras kepala. Terlihat dari dagu runcingnya yang sekarang sedikit terangkat keatas.

Dia tidak terintimidasi dengan keberadaan kami.

Kami ingin berbicara dengan teman korban, apakah disini ada yang menjadi teman dekat dari korban? tanya Herman lebih lanjut.

Si blouse putih memandang si blazer hitam.

Mungkin anda bisa berbicara dengan Anton, kalau Ade punya teman dekat, mungkin orang itu adalah Anton, jawab si blazer hitam.

Bisa minta tolong panggilkan Pak Anton itu? Dan dimana kiranya kami bisa berbicara dengan beliau? kata Herman.

Saya hubungi sekarang pak, untuk tempatnya, mungkin bisa disini, nanti kalau ada perlu apa, hubungi saja extensi 101 dari telepon ini, jawab siblazer hitam sambil menunjuk telepon. Sambil berkata seperti itu, dia mengambil telepon dan terlihat berbicara sejenak.

Pak, Anton akan kesini sekarang, kami tinggal dulu ya, katanya sambil memberi isyarat kepada wanita yang lain untuk meninggalkan ruangan.

Bagaimana menurutmu wanita yang memakai blazer hitam Her? Tanyaku pada Herman ketika wanita-wanita itu sudah meninggalkan ruangan.

Tegas dan cekatan, sahutnya.

Kenapa Lang? balik dia bertanya.

Tidak apa-apa Her dan kayaknya yang kita tunggu sudah datang, sahutku sambil memberi isyarat kepada Herman.

Seorang pria dikisaran umur 25 tahun berjalan dengan langkah yang ragu. Matanya memandang dengan sedikit takut kearah kami.

Tok.tok.tok

Dengan ragu dia mengetuk pintu ruangan ini.

Mari masuk mas, ajak Herman sambil membukakan pintu.

Ehh, iya pak, sahutnya. Terlihat kegugupan diwajahnya, tangannya tak berhenti saling meremas.

Duduk dulu, ehm, dengan Mas Anton? tanya Herman.

Seperti biasa, aku lebih suka mengamati ekspresi dan mendengarkan jawaban dari yang kami tanya, dibandingkan dengan memberi pertanyaan langsung. Banyak hal yang bisa aku ketahui dengan memperhatikan dan membandingkan jawaban dari saksi atau tersangka dalam suatu kasus.

Begini Mas Anton, saya Herman dan ini rekan saya Galang, Jelas Herman sambil menunjuk kearahku.

Aku mengangguk sedikit kearahnya.

Kami dari kepolisian, mungkin mas sudah mendengar kabar kalau salah satu teman mas meninggal? tanya Herman.

Eh, iya pak, tadi teman-teman membicarakannya di belakang, sahut Anton, dan terlihat kepercayaan dirinya sudah mulai pulih.

Dari siapa mas mendengarnya?

Wah, kurang tau pak, pas saya datang, teman-teman sudah membicarakannya

Mas tinggal di mess disini? Disebelah mana? cecar Herman.

Iya pak, saya tinggal di mess sini, disebelah utara dari mess nya, messnya Ade pak, sahutnya, terlihat ekspresi sedikit ngeri diwajahnya.

Apakah mas teman dekatnya Ade? tanya Herman sambil sedikit mencondongkan tubuhnya kearah Anton.

Eh, bisa dibilang begitu pak.

Apakah Ade ini mempunyai banyak teman?

Ade orangnya sedikit tertutup pak, temannya, kalau yang bisa dibilang dekat mungkin hanya saya saja, sahut Anton.

Kalau musuh?

Kalau soal itu saya kurang tau pak.

Apakah Ade pernah bertengkar dengan sesama karyawan disini? tanya Herman, sambil menulis jawaban Anton di notesnya.

Setau saya jarang pak, Ade lebih suka bermain gadgetnya daripada mengurusi urusan orang lain.

Herman menoleh kepadaku, matanya seolah berkata, sekarang giliranmu.

Apakah saudara Ade ini punya pacar? tanyaku.

Kalau setahu saya, belum pak, seperti saya bilang tadi, dia lebih suka bermain dengan gadgetnya daripada jalan-jalan keluar atau ngobrol dengan yang lain, jawab Anton dengan sedikit tersenyum.

Apakah mas tahu kalau saudara Ade suka jajan?

Kulihat sedikit kepanikan diwajahnya.

Ehh, tahu mas…, jawabnya dengan pelan.

Dan apakah anda sendiri sering ikut bersamanya kalau lagi kepingin jajan? tanyaku sambil menatap matanya dalam-dalam.

Eh..pak,,itu…, katanya terbata.

Mohon dijawab saudara Anton, kataku tegas.

Iya Pak. Saya sering ikut. Ta..pi yang terakhir saya tidak diajaknya pak, katanya cepat.

Yang terakhir? Berarti anda tahu kalau pada saat terakhir saudara Ade pergi dengan siapa? tanyaku sambil mengamati wajahnya.

Tidak pak, untuk yang terakhir, saya tidak tahu dia pergi dengan siapa, karena Ade juga baru mengenalnya beberapa hari, Katanya tegas.

Sepertinya dia berkata jujur atau dia seorang aktor yang sangat baik.

Biasanya bagaimana cara anda dan Ade dalam jajan?

Biasanya kami mencari lewat online pak, jawabnya.

Lewat internet? Memang bisa pesan perempuan lewat internet? Tanya Herman dengan heran.

Bisa pak, bahkan kita bisa memilih sesuai selera kita, jawab Anton sambil tersenyum.

Edan! seru Herman.

Jadi, apakah yang terakhir ini, Ade juga memesan lewat internet? tanyaku memastikan.

Tidak pak, yang terakhir ini, dia ragu sejenak sebelum melanjutkan. Dia kenalan lewat BBM pak.

Hmmmm… kasus ini semakin menjadi aneh.

Saudara Anton, kalau Ade diharuskan memilih, antara anda dan gadgetnya, mana yang akan dipiilihnya? tanyaku pelan.

Sudah pasti gadgetnya pak! jawabnya tegas.

Hhhmmmm, rasanya korban ini lebih mementingkan pekerjaan dan gadgetnya. Pikirku.

Mungkin Mas Anton tahu, apakah Saudara Ade ini punya pekerjaan sampingan? Selain di perusahaan ini? tanyaku.

Satahu saya tidak pak, pekerjaan disini dari pagi sampai sore, jadi kami tidak punya banyak waktu untuk bersantai.

Apakah anda senang bekerja disini?

Tentu saja, boss kami baik kepada karyawan, selain itu kami disediakan fasilitas yang lebih dari cukup. Saya rasa semua karyawan senang bekerja disini, termasuk Ade, jawabnya mantap.

Bagaimana dengan pekerjaan? Ada sesuatu yang mengecewakan atau yang kiranya bermasalah dengan anda atau Saudara Ade? tanyaku lebih jauh.

Pekerjaan disini menyenangkan pak, apalagi bisa dikatakan sekarang kami punya mega proyek, jelasnya lebih lanjut.

Mega proyek? Sebuah motif!

Bisa anda jelaskan mega proyek ini? desakku lebih lanjut.

Wah, itu saya tidak berani pak, mungkin bapak tanya boss saya atau Mbak Lidya, katanya diplomatis.

Mbak Lidya ini siapa?

Dia boss dari rekanan kami di proyek ini pak, jelasnya.

Hmmmm…, mungkinkah?

Aku memandang kearah Herman dan memberikan isyarat kalau sudah cukup.

Kalau begitu terimakasih atas kerjasamanya, kata Herman sambil menjabat tangannya.

Tiba-tiba aku teringat sesuatu.

Satu pertanyaan lagi. Siapa saja disini yang tahu kalau Ade punya masalah jantung?

Semua juga tahu pak, Ade pernah kena serangan jantung ringan disini, jawabnya.

Terimakasih, sahutku sambil menjabat tangannya. Kupandang Anton sampai dia menghilang dari pandangan.

Jadi bagaimana menurutmu Lang?

Kasus ini semakin pelik saja Her.

Maksudmu? Bukan sudah jelas kalau Ade tidak punya musuh disini, debat Herman.

Apa kau lupa Her? Musuh terberatmu adalah teman terbaikmu dan teman terbaikmu mungkin saja adalah musuhmu, kataku yang dijawab dengan garukan tangan Herman dikepalanya.

Ah sudahlah, terus sekarang bagaimana? tanya Herman.

Aku ingin berbicara dengan bossnya Ade, kalau tidak ada mungkin dengan wanita-wanita tadi.

Kenapa?

Kalau ini bukan murni karena kecelakaan, aku ingin tau, apa yang diketahui Ade, apa yang dipunyainya, yang membuat sesorang harus
melenyapkannya!

Aku menuju telepon dan menekan ekstensi 101.

Selamat pagi, dengan Frida G-Team, ada yang bisa saya bantu?

Selamat pagi, saya Galang, dari kepolisian yang tadi bertemu dengan Pak Frans, terangku Saya ada diruang rapat, bisa berbicara dengan pimpinan yang ada sekarang di sini?

Pak Frans dan pak Edy sedang tidak berada ditempat, begitu juga Mbak Erlina, sekretaris direktur yang sekarang ada rapat diluar, jadi saya rasa tidak ada pimpinan sekarang disini pak, jawabnya Eh, tunggu pak, mungkin bapak bisa bicara dengan Mbak Lidya? Katanya dengan ragu.

Mbak Lidya ini siapa mbak? tanyaku mendengar nada ragu dalam suaranya.

Mbak Lidya, CEO dari Delta Company, perusahaan yang sekarang menjadi partner dari mega proyek kami, Terangnya.

Boleh juga mbak, bisa minta keruang rapat sekarang mbak? tanyaku.

Iya pak, itu saja pak?

Iya, terimakasih mbak, sahutku sambil menutup telepon.

Gimana Lang?

Kita tunggu dulu disini Her, jawabku sambil duduk dan mengumpulkan potongan-potongan data yang kami dapatkan hari ini.

Lidya POV.

HUffftttt.

Polisi.

Perasaan ini selalu ada kalau aku berada didekat polisi. Pdahal sudah itu sudah lama. Huffffft.

Apakah kematian Ade ini bukan karena kecelakaan? Apakah ini mungkin sabotase proyek yang kami sedang kerjakan? Kalau sabotase, dari siapa dan mengapa? Bukannya tender ini hanya antara perusahaanku dan G-Team?

Ahhhhhh. Semakin lama semakin tak karuan!

Bingunggggg..

Kringkringgkringg

Suara telepon menyadarkanku dari lamunan.

Halo selamat pagi, dengan Lisa, ada yang bisa dibantu?

Jawab Lisa mengangkat telepon.

Oh iya Frid, nanti mbak minta kesana ya

Iya, thanks ya Frid.

Kenapa Lis? tanyaku ketika Lisa menutup teleponnya.

Ada tepon dari Frida mbak, mbak diminta keruang rapat oleh polisi yang datang kemari tadi, jawab Lisa.

Ouwh, iya Lis, mbak kesana dulu ya.

Apa yang ingin mereka tanyakan?

Sambil bertanya-tanya didalam hati aku melangkah menuju ruangan rapat.

Entah mengapa lorong-lorong ini terasa sedikit mencekam, setelah kejadian ini, semoga semua berjalan dengan lancar.

Diruangan rapat kulihat polisi yang tadi duduk dengan santai.

Huuupp…..huuuuuhhhhh. Kuambil nafas panjang dan membuka pintu.

Selamat pagi mbak, silahkan duduk dulu. Sambut polisi yang lebih gemuk dengan ramah, kalau tidak salah Pak Herman. Sikurus disebelahnya menganggukan kepalanya.

Tatapan itu.

Aku duduk dikursi yang ada didepan mereka.

Sebelumnya kita belum berkenalan secara resmi, saya Herman, ini rekan saya Galang, lanjutnya.

Saya Lidya, CEO dari Delta Company, jawabku.

Sebelumnya, kami dengar bahwa anda adalah boss dari rekanan perusahaan ini dalam suatu mega proyek, kalau boleh saya tau, mega proyek apa ini? Tanya Pak Herman, to the point.

Ini semacam join proyek pak, jadi perusahaan saya dan perusahaan Mas Andri bekerjasama membuat suatu program, sahutku dengan tenang.

Setidaknya aku berusaha tenang.

Kalau boleh tau, proyek milik siapa dan jenis programnya apa mbak?

Program produksi, tranportasi dan kepegawaian, dari Perusahaan Alfa Medika pak, jawabku.

Terus apa peran Ade dalam proyek ini? lanjutnya.

Ade adalah lead programmer dari G-Team, perusahaan Mas Andri, jelasku lebih lanjut.

Apa efek dari kehilangan Ade ini?

Cukup besar, mungkin kami harus mencari programmer tambahan, yang cukup sulit dalam waktu yang mepet ini.

Pak Herman menoleh pada rekannya, seolah memberitahu kalau gilirannya bertanya.

Apakah ada yang akan dirugikan jika proyek ini gagal selain perusahaan anda dan Pak Andri? Tanya sikurus dengan tatapan mata yang tajam.

Tajam.

Menyelidik.

Setahu saya tidak, jawabku diplomatis.

Kalau perusahaan lain yang diuntungkan?

Setahu saya juga tidak, jawabku sambil tersenyum.

Apa proses pemilihan perusahaan untuk ini tidak dilakukan secara tender? Tanya sikurus lebih lanjut.

Tidak pak, perusahaan saya dan Mas Andri yang dipilih untuk program ini, jawablu singkat.

Kenapa? terlihat nada heran dari sikurus.

Karena perusahaan Mas Andri terbaik dalam bidang IT di Jakarta, dan perusahaan saya bergerak di bidang tranportasi, yang mana bisa melengkapi perusahaan Mas Andri dalam membuat proyeknya, jawabku dengan tegas.

Apakah anda mengenal korban secara pribadi? tanya sikurus, mengalihkan pertanyaannya.

Belum, kami baru bertemu mungkin dua kali, jadi kalau dibilang mengenal secara pribadi, belum, sahutku.

Apakah anda tau kalau korban mempunyai masalah dengan jantungnya?

Saya tahu, saya dengar dari Lisa, sekretaris saya, yang mendengarnya dari Mas Frans.

Pak Andri, kapan kira-kira beliau akan ada disini?

Tadi saya hubungi sudah mau berangkat, sekarang kemungkinan masih dijalan, mungkin nanti malam sudah ada disini pak, kataku.

Sikurus memandang temannya.

Kulihat polisi yang gemuk menganggukan kepalanya.

Baik mbak, terimakasih atas bantuannya, saya kira cukup sampai disini, kami permisi dulu mbak, kata sikurus sambil berdiri dan menjabat tanganku.

Tegas.

Itulah kesan yang aku dapatkan ketiika menjabat tangannya.

Kupandangi punggung mereka sampai menghilang dari pandangan.

Huffffffftttttttttttt…

Kuhembuskan nafas lega setelah kepergian mereka.

Sekarang, tinggal menunggu si-mata-keranjang datang, dimanakah dia sekarang?

Andri POV.

Ada apa mas, kok buru-buru balik? tanya Raisa dari sampingku. Ketika kami sedang dalam perjalan kembali ke Jakarta. Matahari sudah lumayan tinggi, panasnya mulai terasa di udara yang kami lewati.

Ada kejadian yang cukup penting di perusahaanku Is, kataku dengan pelan.

Ada apas mas? tanya Raisa penasaran.

Kepala programmerku meninggal Is, jawabku.

Huh!? Meninggal kenapa mas?

Kulirik kesamping, mata Raisa sedikit terbelelalak, heran, terkejut, itu kudapati disana.

Belum tau is, Si-ce-, eh maksudku Lidya tidak menjelaskannya secara detail tadi, jawabku.

Wah, terus gimana dengan proyek mas nantinya? tanya Raisa, tersirat nada prihatin disuaranya.

Entahlah Is, mas juga masih bingung, sahutku.

Semoga

Semoga nanti lebih baik.

Author: 

Related Posts