Cerita Sex My Boss!!! – Part 21

Cerita Sex My Boss!!! – Part 21by adminon.Cerita Sex My Boss!!! – Part 21My Boss!!! – Part 21 3rd POV Tiga puluh menit kemudian Lelaki berbalut jas putih di ruang praktek imitasi itu tampak gugup dalam posisi duduknya, tangannya memutar-mutar bolpoin yang tertempel di sela jarinya. Sesekali dia mengusap kepalanya ke belakang kemudian mengetukkan jarinya beberapa kali pada meja di depannya. Wajahnya tegang, namun tetap berusaha tenang. Pikirannya […]

tumblr_nklb0o0Q8w1qb139no1_540 tumblr_nklsllRjGE1up9txto1_540 tumblr_nkmd7jzwSu1up9txto1_540My Boss!!! – Part 21

3rd POV
Tiga puluh menit kemudian

Lelaki berbalut jas putih di ruang praktek imitasi itu tampak gugup dalam posisi duduknya, tangannya memutar-mutar bolpoin yang tertempel di sela jarinya. Sesekali dia mengusap kepalanya ke belakang kemudian mengetukkan jarinya beberapa kali pada meja di depannya. Wajahnya tegang, namun tetap berusaha tenang. Pikirannya melayang pada sosok gadis yang kini sering mengisi harinya. Tinggal beberapa langkah lagi dia bisa memiliki gadis itu seutuhnya. Hati dan tubuhnya. Tak dapat dipungkiri bahwa pesona Sheila sangat jelas dirasakan oleh para lelaki di sekitarnya. Bahkan Belum sebulan dia bekerja, para lelaki itu sudah terang-terangan merayunya. Rekan bisnisnya Ronald pun tampak memancarkan aura persaingan ketika melihat Sheila.
Ck, Rendra merasa menyesal mengajak gadis itu dan membiarkannya bertemu Ronald. Tapi untunglah gadis itu bukan tipe wanita penggoda yang menggunakan pesona dan tubuhnya kepada para lelaki di sekitarnya. Walaupun dia mengakui bahwa rasa cemburu sempat tinggal di hatinya saat melihat tatapan terpesona Sheila pada Ronald kala itu. Rasa posesif terpatri kuat di dadanya. Dia tak akan pernah membiarkan gadisnya dekat dengan pria lain. Biar saja para lelaki itu mendamba sampai mati pada Sheila, namun hanya dia yang bisa menikmati cinta dari wanita itu.

Rendra tersenyum bangga dengan apa yang baru saja muncul di pikirannya, hingga sebuah ketukan pintu menyadarkannya, lelaki itu pun menoleh, Masuk, ujarnya kepada seseorang yang menampakkan kepalanya di balik pintu.

Sebuah kepala dengan topi putih muncul bersama badannya dengan ragu. Sejenak membuat lelaki bernama Rendra itu terpana. Matanya membulat, menatap sosok berbaju putih yang kini sedang menggaruk leher putihnya, tak lama kemudian dia menurunkan tangannya dan menautkan keduanya. Kain putih itu tampak tertarik di bagian payudaranya yang kencang. Tampak sekali kalau gadis itu memakai baju yang lebih kecil dari ukuran tubuh dia yang sebenarnya. Tidak menyangka bahwa gadisnya akan sangat cocok memakai pakaian ala suster yang dia siapkan. Rendra benar-benar senang bahwa fantasi seksualnya akan terwujud sempurna dengan adanya Sheila.

Tumpukan hasrat menyeruak di dada Rendra. Ingin sekali ia melahap sosok di hadapannya itu. Namun otaknya menyuruhnya untuk tetap diam. Dia ingin permainan itu berjalan sempurna seperti rencananya. Matanya turun ke bawah, melihat sebuah kaki jenjang nan mulus yang menyilang tak tenang, tangan Sheila menarik-narik ujung baju putih yang dipakainya yang dia rasa terlalu pendek. Sedikit saja terangkat maka semua yang tersembunyi itu akan terlihat dengan indahnya. Rendra tersenyum senang dengan pikirannya. Tangannya sangat gatal untuk menarik kain putih itu ke atas.

Do.. dokter, kata Sheila dengan ragu. Kini tangan kirinya dia kepalkan ringan dan ditempatkan di depan dadanya. Wajahnya merah karena malu.

Iya say.. ehem maksudku.. suster? Rendra terhempas kembali ke bumi saat lamunan menguasai jiwanya sejenak. Dia kembali sadar dengan apa yang harus dia lakukan. Berjalan dia memutari meja di hadapannya kemudian mendekati gadis itu dengan jarak yang amat dekat. Membiarkan tangannya mengelus pipi kenyal Sheila dan menangkupnya.

Sepertinya kau sakit, mukamu merah sekali.. ucapnya sok perhatian dalam rangka mengawali permainan mesum itu.

Ah.. aku..aku tak apa, hanya sedikit lelah dok.. jawab Sheila yang terlihat mulai terbawa arus permainan itu.

Hm.. benarkah? Sepertinya aku harus cek kondisimu suster.. bujuknya. Membuat Sheila menggeleng pelan berusaha menolak.

Aku harus pulang.. Sheila mendorong dada dokter palsu itu kemudian berusaha pergi melangkah keluar. Sampai sebuah tangan menghentikan pergerakannya. Mata Rendra menyala dengan gairah, namun masih terkendali. Dia lalu membawa tubuh mungil itu ke tempat tidur bersprei putih yang tersedia di ruangan itu.

Berbaringlah.. Rendra mulai memasangkan stetoskop yang sedari tadi tergantung di lehernya dengan benar.

Aku tak mau bila susterku sakit.. lanjutnya dengan nafas sedikit tertahan. Sheila mengangguk dan membaringkan tubuhnya di kasur yang hanya cukup untuk tidur satu orang itu. Rendra menelan ludah memandangi sosok seksi yang memabukkan itu, celananya semakin sempit saja. Apalagi melihat paha mulus dengan kain putih yang sedikit tersingkap itu.

Bisakah..bisakah kau buka bajumu? Ah. . maksudku..kancingnya, aku ingin memeriksa detak jantungmu.. Suara Rendra bergetar, gairahnya semakin naik saat berucap. Apalagi saat Sheila membuka dua kancing bajunya yang berada di dada kirinya. Dia membuka bagian atas baju yang sudah tak terkancing itu. Menampakan kain hitam berenda yang membungkus bukit kembarnya yang membentuk garis pemisah di bagian tengah bukit itu. Sheila sedikit menggerakkan badannya, membuat posisi setengah duduk yang menjadikan bulatan itu berguncang.

Tubuh Rendra semakin kaku, saat tangannya terarah ke dada itu, dia sedikit bergetar. Aku..akan memeriksanya.. katanya menekankan kepada dirinya sendiri agar tak berbuat lebih jauh. Sheila mengangguk walaupun jantungnya berdebar kencang. Tak dapat dipungkiri kalau sekarang dia sudah terbawa ke dalam permainan yang diciptakan Rendra. Melihat tatapan Rendra yang sangat mendamba memberi kenikmatan tersendiri untuknya. Sungguh, wajah mesumnya terlihat sangat seksi saat ini. Apalagi dalam balutan pakaian dokter dengan kacamata yang dipakainya. Saat ini tubuhnya ingin sekali di sentuh oleh tangan yang sedang memegang stetoskop itu.

Akhirnya stetoskop itu menempel di dadanya, sedikit di tekan dan mengalirkan sensasi dingin di kulit Sheila, membuatnya sedikit mendesah. Rendra yang tidak berniat sedikit pun memeriksa gadis itu sangat senang dengan reaksi yang ditunjukan Sheila, hingga dia mengarahkan stetoskopnya ke beberapa daerah payudara Sheila, yang bila dia tak dapat mengendalikan diri, dia akan meraupnya saat ini juga. Namun dia juga tampak senang melihat dada Sheila yang tertekan-tekan oleh stetoskop itu. Sheila mulai terengah dengan sensasi erotis yang ditimbulkan stetoskop itu, dia tidak menyangka benda itu akan memberikan kenikmatan yang berbeda dengan tangan lelaki, walaupun keduanya sama-sama nikmat.

Do..dokter..hhh.. periksanya di sebelah sini.. ucap Sheila sambil menunjuk jantungnya. Membenarkan perilaku dokter jadi-jadian itu yang tak memeriksanya dengan benar.

Ah..di sini? kata Rendra dengan suara serak menahan gairah menekankan stetoskop ke arah yang berbeda dengan yang ditunjuk Sheila. Bukan..di..sini..dok jawab gadis itu meraih tangan Rendra dan mengarahkannya dengan benar. Rendra merasakan jantung gadis itu berdegup dengan sangat kencang, mungkin bila diperiksa degup jantungnya juga akan sama saja. Mengingat kondisi mereka yang sedang dilingkupi gairah seksualitas di ruangan itu. Sheila berbicara kembali dengan sedikit berbisik, Se..sepertinya nafasku sesak dok..hhh dia sedikit melenguh di sela suaranya.

Apa? Tanya dokter itu sok polos.

Se..sak

Rendra menggaruk tengkuknya kemudian menyeringai. Hm.. sepertinya harus kuberikan CPR pernyataan itu dibarengi dengan tindakan menangkup payudara Sheila dengan kedua tangannya. Aku harus menekan dadamu dulu, kalimat dokter mesum itu benar-benar asal dan seenaknya. Sheila tahu itu. Mana mungkin CPR yang sesungguhnya akan seperti ini. Ini sih bukan menekan tapi meremas, pikir Sheila namun menikmatinya.

Apakahmasih sesak?
Sheila mengangguk, dia mengakui dalam hati kalau dia masih ingin disentuh tangan nakal itu. Dia semakin terengah merasakan pijatan di payudaranya, terasa pelan namun membuatnya melayang.

Kenapa ..jadi semakin sesak dok..hhh? tentu saja, itu karena nafsu mereka berdua semakin naik. Rendra yang melihat itu pun semakin merasakan nafasnya yang memburu, dia membuka kaitan bra hitam itu yang sungguh beruntung berada di depan. Dua benda bulat itu menyembul sempurna dengan ujung yang mengeras. Tak tahan dengan pemandangan itu dia mengulumnya rakus seperti akan melahap habis benda itu. hmphmpmpmphhh gumamnya di tengah kuluman itu. Sheila menggeliat-geliat merespon tindakan Rendra.

Akhh.. apa yang kau lakukan dokter?

Tentu saja memeriksamu sayang.. lalu dilanjutkan kembali aksinya. Menggerayangi tubuh yang sejak tadi menggodanya itu. Tangannya bergerilya ke sana kemari hingga sampai pada daerah kewanitaan Sheila, Rendra mengelus celana dalam itu dan menyelipkan jarinya ke dalam, lalu memainkannya. Sheila menjerit, Aaaakhh.hmphhphpmpmpmp, namun jeritan itu tertahan saat mulut mereka beradu. Rendra menerobos mulut itu dengan lidahnya, menyatukan aroma mintnya dengan aroma cake strawberry dari mulut Sheila, Kau habis makan kue? rasa penasaran membuat Rendra berintermezzo sejenak. Sedikit.. jawab gadis itu kemudian pergumulan itu terjadi kembali. Kewanitaan yang serasa di aduk itu membuat Sheila kehilangan pikirannya. Dia mendesah nikmat, French kiss yang hebat itu membuatnya terbang hingga dia menggelinjang hebat beberapa detik. Rendra telah membuatnya mengalami puncak nafsu untuk pertama kalinya saat pergumulan itu. Rendra tersenyum senang kemudian mengecup pipi wanita itu dengan penuh kasih. Dilanjutkan dengan kecupan lainnya di sekitar mata, dan bibir, kemudian berakhir di leher yang menimbulkan bekas merah sebelum kemudian dia tersenyum bangga dengan hasil karyanya. Sepertinya kau perlu disuntik suster. Rendra berbicara memecah keheningan kecil yang baru saja tercipta.

Apa?

Mereka terdiam sejenak, kemudian bangun dan duduk saling berhadapan. Aku akan menyuntikmu suster.. agar kau sembuh.. lontaran kalimat itu terasa seksi diucapkan walaupun saat mengatakan kata menyuntik Rendra terlihat begitu mesum bagi Sheila.

A..aku tidak suka disuntik dok.. aku biasanya menyuntik.. ujar Sheila setengah menolak dengan kondisi tubuhnya yang sudah tak rapi itu, kancing baju terbuka, payudara yang menyembul dan bra yang belum terlepas sepenuhnya walaupun kaitannya sudah terbuka. Kemudian celana dalamnya yang menonjol dengan baju putih yang terlipat ke atas. Gairah Rendra masih menggebu kala itu.

Harus..suster..dan ..aku akan memberikan suntikan yang berbeda untukmu. Ini spesial, suara paraunya nampak sekali tampak tersiksa. Memerlukan pelepasan.

Tapi.. aku..

Sssstt sudah kubilang ini spesial.. tapi .. ucapnya tertahan. Tapi kau harus membantuku mensterilkannya dulu, kau mau? saat dia selesai mengatakan itu dia membuka celananya, menurunkannya ke bawah, membuat kejantanannya muncul dengan angkuh kala itu. Sheila terbelalak sekaligus kagum. Kewanitaannya berkedut kembali, menginginkan tongkat itu masuk ke dalamnya dan memenuhinya.

Tanpa aba-aba dia meraihnya, membungkuk dan memasukkannya ke dalam mulut Sheila. Rendra terkesiap dan menggeram merasakan mulut Sheila menghisapnya seolah menelan, membuatnya basah. Dia mengusap kepala Sheila perlahan, matanya tertutup dan terbuka dengan cepat, kemudian memajukan pinggulnya agar mendapat akses lebih dalam di mulut Sheila. Hingga Sheila melepasnya.

Argh.. desah Rendra. Sheila menciumi bagian kejantanannya itu sedikit demi sedikit. Memijit bolanya, mengelusnya kemudian dipermainkannya dengan lidahnya. Hingga dia kembali mengemut batang itu dengan lahapnya.

Sampai akhirnya Sheila mengakhiri kegiatannya. Dengan wajah yang merah, dan bibir yang sedikit bengkak, tak sabar dia membuka celana dalamnya dengan sekali sentakan dan melemparnya sembarangan, Rendra terbelalak dibuatnya. Secepat kilat dia merengkuh leher Rendra kemudian melumat bibirnya dengan ganas. Membuat lelaki itu sedikit kewalahan. Sheila mengangkanginya dan menggerakan pinggulnya mengusapkan milik mereka yang sudah tak terhalan apapun. Memberi isyarat pada Rendra kalau dia sudah siap untuk dimasuki. Namun respon Rendra ternyata berbeda dengan yang diharapkan wanita itu. Dia malah menjauhkan tubuh Sheila agar tak semakin menempel.

Whoaaa. .. sabar cantik.. pensterilannya belum selesai.. tapi Sheila seolah tak mendengar, dia semakin kencang memeluk leher Rendra. Masuki aku..masuki..masuki sekarang..hhh.. lalu dia mencium sudut bibir Rendra, dan membuat Rendra lupa berpikir sejenak.
Sheila yang menyadari itu menggerakan pinggulnya kembali, tapi sekali lagi ditahan oleh lelaki itu.

Sudah kubilang.. pensterilannya belum selesai sayang.. Rendra terkekeh melihat kelakuan Sheila yang begitu bergairah. Kini posisi tubuhnya hampir menindih Sheila. Mempermainkannya sedikit sepertinya menyenangkan. Dalam hati dia ingin sedikit lebih lama melihat wajah Sheila yang kelihatan tak tahan itu.

Masuki aku..hhh atau tidak sama sekali..? Sheila mengucapkan perintah itu dengan nada ancaman yang terpatah karena tercampur hasrat. Dan Rendra yang mendengarnya semakin menyeringai dibuatnya.

Hm.. kalau aku tak mau? ucapnya. Walau dia sesungguhnya sangat bernafsu, namun dia ingin menahannya lebih lama lagi. Sedikit ditahan agar dia mendapatkan nikmat yang lebih nantinya. Tapi rencana tinggal rencana, Sheila yang melihat reaksi Rendra menarik nafas dalam-dalam kemudian menghembuskannya. Dia tampak merengut kesal. Kemudian memejamkan matanya dan menarik nafasnya lagi. Lalu mulutnya terbuka

Kau BODOH!!!!!! teriakan dari mulut Sheila itu membuat telinga Rendra sedikit berdenging, tidak menyangka bahwa susternya akan bereaksi seperti itu. Kemudian perut Rendra ditendang oleh lutut Sheila dengan sekuat tenaga. Hingga dia terjatuh.

Bodoh! Aku tidak mau bermain lagi! ucap Sheila sambil mencebik meninggalkan ruangan itu dengan pakaian acak-acakan yang melekat di tubuhnya. Rendra melongo sambil memegangi perutnya. Shit..shit..shit.. umpatnya tak suka. Sedetik kemudian dia menunduk, memperhatikan suntikannya yang sudah melemas tak berdaya saking kagetnya. Ada rasa sesal di hatinya karena mungkin dia sedikit keterlaluan mempermainkan Sheila.

Maafkan aku jagoan! Aku janji akan memuaskanmu ! hiburnya kepada senjatanya itu. Namun lebih tepat ditujukan kepada dirinya sendiri. Dengan lesu dia beranjak, menyusul gadisnya. Berharap gadis itu mau melanjutkan permainan mereka yang sempat tertunda. Rendra mendesah dan berjalan dengan gontai.

***

tbc

Author: 

Related Posts